Jumat, 25 April 2014
Follow Us: Facebook twitter
Dahlan: Kelangkaan Elpiji karena Penyimpangan
Headline
Walikota Batam Ahmad Dahlan - Ist
Oleh: Haluan Kepri
sindikasi - Selasa, 14 Mei 2013 | 04:03 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM, Batam - Penyebab kelangkaan gas Elpiji bersubsidi seberat 3 kilogram yang terjadi di Kota Batam selain quota yang minim, juga disebabkan karena tidak sebandingnya jumlah pertumbuhan penduduk dan UMKM. Hal itu secara tidak langsung memicu terjadinya penyelewengan, baik di tingkat agen, pangkalan maupun dalam proses distribusi.

"Kita tidak menuduh siapa-siapa. Tapi kalau kita lihat memang ada permainan, selain masalah kuota dan permintaan yang pesat dan perumbuhan UMKM juga adanya penyelewengan. Penyelewengan ini biasanya terjadi di wilayah padat penduduk, seperti Sagulung, Batam Kota, Batu Aji dan lain sebagainya, dan terjadi di mindland," kata Walikota Batam Ahmad Dahlan, Senin (13/5/2013).

Sementara gas Elpiji di daerah hinterland, kata Dahlan, dari pertemuan yang dilakukan dengan unsur kecamatan tidak terjadi kelangkaan. Seperti, Bulang, Galang maupun Belakang Padang. Mengenai langkah yang akan diambil, diantaranya Pemko Batam akan membuat Perwako tentang sistem distribusi, yang nantinya akan mengatur dari agen ke pangkalan dan dari pangkalan ke konsumen.

Langkah selanjutnya adalah, Dahlan sudah meminta kepada pimpinan Pertamina Kepri untuk memfasilitasi bertemu dengan Dirjen Migas, sebagai upaya untuk menambah Kuota di Batam.

"Kita minta ke Pertamina untuk memfasilitasi. Kapan saja, mau besok atau lusa, kita siap untuk bertemu dengan Dirjen Migas. Kita mau meminta penambahan kuota," katanya.

Sementara itu Kadisperindag Kota Batam Amsakar Achmad mengatakan, saat ini Batam, sangat memerlukan kuota tambahan untuk gas elpiji bersubsidi. Sebab, hal ini bisa dilihat, di 2012 saja, kuota Batam mencapai 6.770.210 tabung atau rata-rata perbulan 564.184 tabung.

"Sementara itu, pemakain gas elpiji Kepri, dari Januari hingga April, sudah melebihi 11 persen. Ataui 625.867 tabung perbulannya. Dan angka ini belum porporsional, mengingat pertambahan penduduk dan UMKM yang tinggi," kata Amsakar.

Bahkan, menurut dia, pelaku UKM yang tumbuh sekitar tiga persen, satu pelaku mampu mengahabiskan 3-4 tabung satu malam. Sehingga memang tidak ada cara lain kecuali meminta penambahan kuota.

Ditanya mengenai Perwako, Amsakar mengatakan, pihaknya saat ini sedang menyusun draft. Jika memang memungkinkan dalam dua hari kedepan selesai. Mengingat begitu pentingnya aturan tersebut. Dimana, semua diatur, setiap agen hanya membagikan ke pangkalan yang sudah ditunjuk, begitu juga aturan pangkalan yang hanya untuk masyarakat wilayahnya.

"Ini sekarang kan masih amburadul. Itulah sebabnya gas kita hilang. Nah kalau pola ini (aturan perwako) diterapkan, maka gampang diawasi,"katanya.

Sementara penyelewengan, diantaranya adanya permainan antara sopir, agen dan pangkalan. Meski tidak semua, namun itu ada. Oleh karena itu, pihaknya akan mulai melakukan operasi terpadu yang terintegrasi dengan Pertamina untuk itu semua. Termasuk didalamnya akan melakukan penertiban bagi yang melakukan penyulingan.

"Ini pasti ada yang melakukan penyulingan. Karena itu, memang ada beberapa titik yang kita pantau. Itu nanti akan kita tertibkan, jangan sampai penyulingan terjadi," katanya. [mes]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.