INILAH.COM, Raha - Puluhan massa yang mengatasnamakan diri,Front Perlawanan Rakyat (FPR) Muna, mendesak Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Muna,H Abdul Haris mundur dari jabatannya, karena dinilai tak becus atasi rusaknya hutan Warangga.
Sebelumnnya, massa dari berbagai elemen mahasiswa ini, berkeliling Kota Raha, sebagai bentuk aksi protes, atas kondisi hutan Warangga yang saat ini rusak parah.
Massa juga meminta,agar para elit politik jangan hanya duduk enak.Secepatnya mereka mengambil tindakan,agar warga yang bertani di Warangga segera dikosongkan.Dalam aksi tersebut,sempat terjadi aksi saling dorong antara massa dan petugas kepolisian yang berjaga.
Koordinator aksi, La Ode Muh Rabiali, mengatakan, hutan itu kini dalam kondisi memprihatinkan. Banyak pohon tidak lagi menampung air akibat ketidaktegasan Haris memimpin Kehutanan. Haris dituding sengaja melakukan pembiaran atas warga yang bermukim dan bercocok tanam di Warangga. Padahal tindakan penyelamatan atas hutan itu mutlak agar tidak terjadi kekeringan di Muna.
"Warangga kini tidak lagi menampung debit air. Banyak hutan sudah digerogoti, akibat ulah masyarakat. Rusaknya Warangga, dikarenakan ketidakpedulian Haris selaku Kadishut," ujarnya di depan Dinas Kehutanan,Kamis (20/9).
Kata Rabiali,rusaknya Warangga juga ditenggarai,adanya pembohongan publik yang direkayasa pemerintah daerah,dalam melakukan perampokan dan pengundulan jati.Ini sangat nyata,karena Dishut sudah menjadi penampungan kayu curian.Sebagai bukti,telah terkumpul ribuan kubik kayu jati yang disimpan Dishut Muna bagian belakjang kantor.
"FPR mencurigai ada skenario besar yang dilakukan eksekutif dan legislatif terhadap pencurian kayu.Karena sampai hari ini,penyelamatan hutan Warangga tak kunjung diselesaikan," kata mantan alumni Universitas Gajah Mada Yogyakarta ini.
Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Muna,H Haris di depan para pendemo,mengatakan,dirinya memberikan apresiasi tinggi kepada seluruh elemen mahasiswa. Ia mengaku, dari hasil pemeriksaannya di lapangan bersama Dinas Tata Ruang, kondisi hutan saat ini banyak mengalami kerusakan parah hingga 94 Ha dan perlu dibenahi.
Ditambahkannya, warga yang telah menguasai hutan tersebut telah berulangkali ditemui dan diberikan surat agat meninggalkan area tersebut, sayangnya upaya tersebut gagal. Haris kembali berjanji bahwa dalam waktu dekat akan dilakukan penertiban di lokasi hutan yang kini menjadi buah bibir tersebut
"Kita sudah melakukan koordinasi bersama pihak yang kompeten,dalam menanggani masalah hutan Warangga. Dan secepatnya kita melakukan penertiban," ujarnya. [ton]