Minggu, 24 Agustus 2014
Follow Us: Facebook twitter
5 WNI Tewas di Malaysia Diduga Diambil Organnya
Headline
ilustrasi
Oleh: Haluan Kepri
sindikasi - Kamis, 13 September 2012 | 04:00 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM, Batam - Polisi Malaysia kembali menembak mati lima Warga Negara Indonesia (WNI), Jumat (7/9) sekitar pukul 02.00 dini hari waktu Malaysia. Kelima orang itu, empat di antaranya warga Batam, Kepulauan Riau dan satu orang lainnya warga Madura, Jawa Timur. Mereka dituduh melakukan perampokan di Ipoh, Pulau Pinang, Malaysia.

Kelima WNI itu adalah Jony alias M Sin (35), Osnan (37), Hamid, Diden, semuanya warga Bengkong Pertiwi, Batam dan Mahno berasal dari Madura yang sudah lama menetap di Ipoh, Negara Bagian Perak, Malaysia. Saat ini jazad kelima korban di Rumah Sakit Raja Permaisuri Bainon Ipo, Perak, Pulau Pinang, Malaysia.

Informasi tewas kelima korban itu diketahui, Devi, istri korban Jony dan Fitra Susanti, istri Osnan dari Susan dan Devi, istri korban lainnya di Malaysia pada Sabtu (8/9) siang.

Meski demikian, informasi itu belum begitu dipercayai, sehinggak keduanya meminta bukti kalau suami mereka benar-benar ditembak di Malaysia. Akhirnya, Minggu (9/9) Susan dan Devi yang berada di Malaysia tersebut mengirim foto jenazah suami mereka. Dari situ mereka pun percaya bahwa kedua suaminya memang benar tewas ditembak polisi Malaysia.

Kedua istri korban khawatir organ tubuh suami mereka diambil polisi Malaysia. Sebab dari informasi yang diterima, dari lima korban itu, satu diantaranya organ tubuhnya sudag diambil polisi Malaysia.

Devi, istri Jony menuturkan sehari sebelum mendapat kabar suaminya tewas tertembak, ia masih sempat saling SMS via ponsel dengan suaminya. Salah satu SMS (pesan singkat) itu berbunyi suaminya saat itu lagi menunggu jemputan pulang di pinggir Highway dari Ipoh menuju Kuala Kansar.

" Abang lagi tunggu jemputan pulang ke mess di Kuala Kansar, lalu saya balas SMS nya dengan kalimat hati-hati. Setelah itu tak ada kabar sama sekali. Padahal tiap hari suami saya itu selalu SMS kasih kabar baik berangkat kerja maupun pulang ke mess," kata Devi, kepada wartawan di Batam, kemarin.

Jony sendiri kerja di Malaysia sudah enam tahun sejak 2006 silam. Sedangkan Osnan malah lebih dahulu masuk Malaysia sejak 2003 atau sembilan tahun lamanya. Keduanya bekerja di satu perkebunan sawit dan tiap tiga minggu sekali keduanya pulang ke Batam, menafkahi istri dan anak.

Selama ini, Devi maupun Susanti mengetahui bahwa suami mereka bekerja pada sebuah perkebunan di Pulau Pinang, Malaysia. Memang diakuinya selama bekerja di Malaysia itu, suaminya tidak pernah menggunakan visa pekerja melainkan visa pelancong.

" Memang menggunakan visa pelancong tapi masuk Malaysia secara resmi,"kata Susanti.

Ia menyebutkan suaminya, Osnan memiliki paspor bernomor S770396 dan dinyatakan masih berlaku. Sementara paspor Jony bernomor V356929.

Sementara itu Devi, istri Jony menambahkan dirinya bersama Suanti dengan dibantu kerabatnya sudah mencoba melakukan kontak dengan Keduataan Besar RI di Malaysia, namun tidak ada respon.

"Kami mendapat nomor Kantor KBRI di Kuala Lumpur dari Kedutaan Malayasia di Jakarta. Tapi setiap kami kontak tidak pernah diangkat,' ujar Devi.

Keduanya berharap jazad suami mereka bisa dibawa pulang ke Batam.

"Pihak keluarga sudah melapor ke Imigrasi tentang tewasnya suami kami di Malaysia. Keinginan kami supaya jasad suami kami ini bisa dikembalikan ke rumah. Itu saja. Kami juga tak terima organ tubuh jazad suami kami diambil tanpa ada persetujuan dari kami sebagai istri," kata kedua istri korban.

Berdasarkan catatan Haluan Kepri, penembakan lima WNI itu merupakan yang ketiga dalam tujuh bulan terakhir. Maret 2012, Abdul Kadir Jaelani (25), Herman (34), dan Mad Noor (28) dari Nusa Tenggara Barat ditembak polisi Malaysia di Port Dickson, Negeri Sembilan.

Juni 2012, tiga WNI asal Jawa Timur ditembak mati di Kuala Lumpur. Terakhir, polisi Malaysia menembak mati Jony dan empat orang lain pada September 2012.

Polisi Malaysia mengklaim para korban ditembak karena dipergoki akan merampok. Kecuali terhadap tiga korban tewas pada Juni 2012, tuduhan itu tidak dibuktikan. Untuk tiga korban pada Juni 2012, polisi Malaysia mengajukan alasan mereka menembaki polisi sebelum tewas.

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA