Kamis, 17 April 2014
Follow Us: Facebook twitter
12 KK Transmigran Ditelantarkan di Kalimatan Barat
Headline
foto: Ilustrasi
Oleh: Erende Pos
sindikasi - Sabtu, 12 Mei 2012 | 04:15 WIB

INILAH.COM, Kupang - Sebanyak 12 kepala keluarga (KK) peserta program transmigrasi asal NTT selama 14 tahun ditelantarkan di lokasi transmigrasi di Desa Silimatan Jaya, Kabupaten Ketapang, Provinsi Kalimatan Barat (Kalbar). Pemerintah diminta bertanggungjawab atas penderitaan yang dialami warga transmigran tersebut.

Kepala Divisi Advokasi Lembaga Hukum dan HAM PADMA Indonesia, Gabriel Goa kepada wartawan di Kupang, Kamis (10/5) menyampaikan, pihaknya telah melakukan pendampingan terhadap para korban penelantaran. Bersama warga korban, mereka telah mengadu ke Komnas HAM RI, Ombudsman RI, dan DPR RI.

“Kami mendesak Presiden, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Nakertrans), Menteri Pertanian, dan Bupati Ketapang harus bertanggungjawab atas penderitaan lahir bathin korban yang telah ditelantarka di bumi Borneo,” tegas Gabriel.

Anggota Komisi Bidang Kesejahteraan DPRD NTT, Anton Landi berjanji akan menanyakan ke Dinas Nakertrans terkait permasalahan yang dihadapi 12 KK asal NTT di daerah transmigrasi. “Kita akan minta penjelasan kenapa sampai mereka ditelantarkan, karena informasi yang baru diketahui,” ujarnya.

Lebih lanjut Anton mengatakan, pemerintah provinsi diharapkan secepatnya melakukan koordinasi dengan pemerintah pusat terkait adanya penelantaran 12 KK warga transmigran dimaksud. Karena akibat penelantaran itu, mereka sangat dirugikan. Untuk itulah, harus segera ditangani karena menyangkut aspek kemausiaan. Apalagi peristiwa penelantaran itu sudah berlangsung cukup lama yakni selama 14 tahun.

Anton mengemukakan, program transmigrasi merupakan kebijakan pemerintah pusat dan dilaksanakan pada masa Orde Baru atau sebelum reformasi. Mungkin saja paradigma penanganan warga transmigrasi yang dilaksanakan pada zaman itu berbeda dengan program saat ini. Walau demikian, harus ditangani secara serius karena menyangkut aspek kemanusiaan. "Inilah yang menjadi masalah serius yang perlu mendapat prioritas penanganan," kata Anton.[dit]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.