INILAH.COM, Bali - Kasus kerusuhan Lapas Kerobokan, pada Selasa (21/2/2012), dipantau langsung Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Bahkan, SBY langsung meminta laporan resmi atas kasus tersebut dan memerintahkan Direktur Jenderal Pemasyarakatan (dirjenpas) Kementerian Hukum dan HAM, Sihabuddin, mewakili Menkum HAM meninjau langsung lapas kerobokan.
Dan dari hasil pantaunya, dia pun memastikan akan memberikan sanksi tegas bagi para petugas lapas yang terbukti lalai dalam menjalankan tugasnya. Sihabuddin, yang ditemui di LP Kerobokan mengatakan, pihaknya segera membentuk tim untuk menyelidiki kerusuhan tersebut. Dikatakan pula, tim tersebut bakal memeriksa para petugas sipir yang saat kejadian sedang tugas jaga.
“Apa bentuk sanksinya masih kita lihat dulu dari hasil pemeriksaan, tapi yang jelas sanksi tentu ada. Selain menggunakan PP (peraturan pemerintah) No. 53, kami juga memiliki kode etik,” papar Sihabuddin, pada Rabu (22/2/2012).
Meski mengatakan akan ada saksi bagi petugas, namun dia tidak semata-mata langsung menyalahkan petugas atas kejadian ini. Seperti diketahui, malam saat malam hanya ada 20 orang sipir yang bertugas.
“Ya kita bandingkan saja, 20 orang petugas harus mengamankan 1015 (penghuni lapas) otomatis tidak bisa menahan. Dan sudah pasti petugas ketakutan jika dalam kondisi yang tidak normal,"ujar Dirjenpas yang belum lama menjabat itu.
Atas kejadian tersebut, posisi Bowo Nariwono sebagai kalapas tentu saja sangat tidak aman. Apalagi saat kejadian Bowo sendiri tidak ada di Denpasar, melainkan sedang tugas di Jakarta. Dia terlihat baru tiba di lapas sekitar pukul 09.00 kemarin dan langsung menemui Dirjenpas. Bowo Nariwono yang baru beberapa bulan menjabat itu memang kurang beruntung, sebab, baru saja menjabat sudah beberapa masalah terjadi.
Selain dua kasus kerusuhan dalam satu pekan, seperti diketahui, belum lama ini lapas juga dihebohkan atas kasus pengeroyokan terhadap seorang tahanan hingga tewas. Selain itu, pekan lalu juga ada kasus napi ABG perempuan menderita luka bakar cukup serius pada wajahnya akibat disiram air keras oleh pembesuk yang merupakan pacarnya.
Lebih jauh, Sihabuddin menyatakan, dari pemeriksaan sementara, kerusuhan ini disebabkan penyelesaian masalah hari Minggu lalu yang tidak tuntas. Sebab, sebagian napi pendukung korban penusukan, Made Eriyasa tidak puas atas penyelesaian masalah tersebut. Sebab, barang bukti pisau yang dilakukan untuk menusuk masih belum ditemukan.
"Dari hasil penelusuran kami kasus ini masih ada hubungan dengan kasus sebelumnya yaitu kasus penusukan. Yang mana ada tuntutan penyelesaian kasus lebih adil,” terang Sihabuddin. Dia juga menyebut, ada anggapan dari sebagian penghuni ada perlakukan tidak adil dari pegawai.
Puncaknya, peristiwa yang terjadi tadi malam. Sementara itu, setelah melakukan pengecekan langsung ke dalam lapas, pihaknya belum bisa memastikan total kerugian. Yang jelas, seluruh bangunan kantor ludes terbakar, termasuk kantor kalapas.
“Semua dokumen penting habis, tidak ada satupun dokumen yang tersisa,” kata dia.
Namun begitu, Sihabuddin masih bersyukur tidak ada napi yang kabur.
“Soal kerugian belum bisa kita hitung, itu baru akan kita bicarakan kemudian," imbuhnya.
Lantas, bagaimana tindak lanjut dari bangunan lapas yang rusak parah tersebut. Ditanya soal itu, Sihabuddin juga belum bisa memastikan.
“Apakah akan dibangun kembali, akan dikaji lebih lanjut. Sementara ini, kami menunggu keputusan Pak Menteri,” tandasnya. [gus]