Kamis, 30 Oktober 2014
Follow Us: Facebook twitter
FPI Eksis di Sulut Sejak 2007
Headline
Oleh: Harian Komentar
sindikasi - Senin, 20 Februari 2012 | 22:10 WIB

INILAH.COM, Lolak - Front Pembela Islam (FPI) telah eksis di Sulawesi Utara (Sulut) sejak tahun 2007-200. Namun ormas ini hanya berpusat di Bolaang Mongondow (Bolmong).

Namun pada tahun 2010, FPI Sulut dibekukan berdasarkan surat dari FPI pusat yang diteken Ketua Umum,Habib Muhammad Rizieq Shihab.

“Pasca dibekukan sudah tidak ada lagi aktivitas seperti operasi miras dan operasi kegiatan maksiat lainnya,’’ aku mantan Sekretaris FPI Sulut, Dolfi Paat kepada Komentar, Minggu (19/02).

Paat mengakui, dulu sempat ada penolakan FPI masuk Sulut. Bahkan pihak Kesbang Sulut, tidak merespons ketika pihaknya mendaftarkan diri.

Sementara mantan Kepala Kesbang Sulut Arnold Poli mengatakan, pada awal 2010, ada tiga orang mengatasnamakan FPI yang sowan ke pihaknya.

‘’Namun mereka cuma sowan saja dan tidak mendaftarkan FPI (Sulut). Saya sendiri terima mereka, tapi administrasi tidak. Jadi sejak saya menjabat Kesbang, FPI tidak pernah terdaftar di Kesbang Sulut,’’ tegas Poli yang saat ini menjabat Sekkot Tomohon.

Sementara Dolfi Paat ketika ditanyai kenapa FPI membekukan diri di Sulut, menjelaskan bahwa salah satu alasan karena akan dibentuk kepengurusan yang baru.

“Suratnya sempat ada, bahkan sudah diserahkan di Kesbang propinsi," kata Paat yang merupakan figur yang mendeklarasikan FPI Sulut di Bolmong Raya bersama Deni Mokodompit dan Rijal Damopolii.

Sedangkan ketika ditanyai soal desakan pembubaran ormas FPI yang saat ini terangkat ke permukaan secara nasional, Paat menilai hal itu bukanlah solusi. Menurutnya, yang harus dilakukan oleh pemerintah adalah bagaimana merangkul dan melakukan pendekatan dengan ormas ini.

"Misi FPI itu sangat jelas yakni memerangi segala bentuk maksiat, tidak ada sentimen agama yang dibawa. Kalau ada sifat anarkis, itu adalah tindakan oknum, bukan FPI. Yang harus dilakukan oleh pemerintah adalah bersama FPI memerangi maksiat, pembubaran bukan solusi," jelasnya.

FPI Sulut, akunya, cukup sukses dalam misinya. Sejumlah nama yang sempat menjadi pengurus FPI Sulut, kata dia, di antaranya, Hi Subari dan Zulfikar Lobud. Terkait operasi miras yang pernah dilakukan FPI di Bolmong, sempat berhasil menyita miras sebanyak 4.000 botol.

"Perlu dicatat, setiap FPI (Sulut) melakukan kegiatan selalu berkoordinasi dengan pihak kepolisian dan ada prosedurnya. FPI kami bentuk karena banyak sekali maksiat. Makanya polisi harus bekerja. Kalau pun ditunjuk lagi sebagai pengurus baru, kemungkinan kami belum mau bergabung. Biarkan saja ke pengurus dan kader baru. Yang jelas FPI bukan ingin melakukan keributan, tapi prihatin dengan maksiat yang sudah luar biasa. Apalagi kalau ada pelecehan agama," tambah Paat yang sempat melakukan orasi saat aksi FPI di Monas, belum lama ini. [mor]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA