INILAH.COM, Oelamasi –Sedikitnya tiga warga Kabupaten Kupang selama bulan Januari dan Februari 2012 ini tewas secara mengenaskan setelah disambar petir saat berada di sawah mereka.
Dua petani Dusun IV Felakdale, Desa Pukadale Kecamatan Kupang Timur Kabupaten Kupang masing-masing Filmon Mudak (35) dan Vina Pian (33), Kamis (9/2), tewas disambar petir saat sedang bekerja di sawah masing-masing. Dalam kejadian itu, tubuh bagian kanan salah seorang korban gosong serta daun telinganya hilang.
Delfi Mudak, istri dari korban, Filmon Mudak (35) yang ditemui di rumah duka, Jumat (10/2) kemarin terlihat masih syok berat setelah mengetahui suami tercinta telah meninggalkannya untuk selama-lamanya. Sejumlah keluarga berusaha menenangkan istri korban yang terus memanggil-manggil nama suaminya.
Saat kejadian, menurut ibunda korban, Lusia Mudak, sore itu korban sedang berada di sawahnya untuk menaburi pupuk. Namun hingga malam hari korban tak kunjung pulang ke rumah. Rasa curigapun timbul sehongga keluarga lalu mencari korban.
Dalam pencarian ini, lanjut Lusia, korban akhirnya berhasil ditemukan sekitar pukul 21.00 Wita di sawah miliknya. Waktu ditemukan, korban dalam keadaan terbujur kaku dan terbenam dalam lumpur sawah. Pada tubuh korban terdapat bekas luka robekan di bagian belakang kepala yang diduga kuat akibat disambar petir.
Korban lainnya Vina Pian (33), tewas mengenaskan sesaat hendak kembali dari sawah bersama ibu mertuanya.
Ketika korban bersama ibu mertuanya hendak pulang, terjadi hujan lebat disertai sambaran petir. Tubuh korban tiba-tiba terlempar sekitar satu meter akibat disambar petir. Sambaran petir ini membuat korban tewas dengan badan bagian kanan dan kepala gosong serta daun telinga bagian kanan hilang.
Berdasarkan catatat Erende Pos, Kamis (19/1) , seorang warga Baumata Kecamatan Taebenu Kabupaten Kupang, Tonci Sanaunu,(36) meninggal dunia tersambar petir saat bekerja di sawah.
Saat kejadian korban bersama istrinya, Tabita Sanaunu, dan seorang anak mereka sedang membajak sawah. Saat itu wilayah tersebut diguyur hujan ringan disertai petir dan kilat.
Tabita yang dihubungi wartawan, Jumat (20/1), mengatakan musibah terjadi Kamis (19/1) petang. Petir tiba-tiba menyambar suaminya hingga langsung meninggal di lokasi kejadian.
"Suami saya disambar petir dan langsung tewas. Badannya membiru," kata Tabita.
Sejumlah petani yang juga tengah membajak sawah kemudian membawa jenazah Tonci ke rumahnya. Pasca kejadian itu petani di Baumata Utara sampai Jumat siang belum berani kembali ke sawah. Mereka takut mengalami musibah yang sama.
Musibah itu bersamaan dengan puting beliung yang menerjang permukiman penduduk di sejumlah desa di Kecamatan Kupang Tengah yang mengakibatkan ratusan rumah porak poranda, dan delapan orang menderita luka ringan. [mor]