Kamis, 17 Mei 2012
Follow Us: Facebook twitter
DPRD Minta Mutu Baja Diperiksa
Wakil Menteri PU Soroti Jembatan Siak III
Headline
Oleh: Haluan Riau
sindikasi - Jumat, 10 Februari 2012 | 02:30 WIB

INILAH.COM, Jakarta - Wakil Menteri Pekerjaan Umum Hermanto Dardak secara khusus menyorot kondisi tujuh jembatan di Indonesia, salah satunya Jembatan Siak III di Riau. Ketujuh jembatan itu harus mendapat perhatian serius.

Dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi V DPR RI, Wakil Menteri Pekerjaan Umum Hermanto Dardak mengungkapkan ia telah memantau kondisi 41 jembatan di seluruh Indonesia. Hasilnya, ada tujuh jembatan yang harus mendapatkan perhatian serius.

Dari ke-ujuh jembatan tersebut, dua terdapat di Provinsi Riau, yakni Jembatan Rumbai Jaya dan Siak III yang bernama resmi Jembatan Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzamsyah.

Sedangkan lima lainnya adalah Jembatan Barito di Banjarmasin, Jembatan Mahakam Kota 1 di Samarinda, Jembatan Talumolo di Gorontalo, Jembatan Batanghari di Jambi, dan Jembatan Musi 2 di Palembang.

Meskipun masuk kategori harus mendapatkan perhatian serius, Hermanto Dardak menegaskan, kalau ke-tujuh jembatan tersebut masih layak dipergunakan.

"Untuk dilewati masyarakat tidak apa-apa. Kalau sudah tidak layak, tidak mungkin kita biarkan," tukasnya.

Dari ketujuh jembatan yang masuk kategori harus mendapat perhatian serius, Jembatan Siak III menjadi satu-satunya jembatan yang usianya sangat baru.

Mengingat jembatan ini baru diresmikan 3 Desember 2011 lalu atau baru dua bulan lebih sepekan. Selebihnya, merupakan jembatan yang usianya sudah puluhan tahun, termasuk Jembatan Muara Rumbai, Indragiri Hilir.

Karena masalah tehnik ini, Wakil Ketua Komisi C DPRD Riau Noviwaldy Jusman meminta agar jembatan yang pemangunannya menelan biaya Rp 136,8 miliar tersebut ditutup karena membahayakan keselamatan penggunanya.

"Dari mula saya sudah katakan, pada saat peresmian saya menolak untuk diresmikan karena memang kondisi Jembatan Siak III itu memang tidak dalam posisi sesuai dengan spesifikasi dan kaedah-kaedah sipil," ujarnya kepada di gedung dewan kemarin.

Mutu Baja Harus Diperiksa

Di sisi lain, Dedet meminta agar Dinas Pekerjaan Umum (Dinas PU) Riau melakukan kajian terhadap jembatan Siak III dengan melakukan pemeriksaan terhadap mutu baja yang dipergunakan untuk jembatan Siak III. Bengkoknya gelagar jembatan Siak III itu harus diperbaiki.

Dinas PU Riau harus mengembalikan kondisi jembatan Siak III seperti sediakala.

"Tutup jembatan, bongkar lantai jembatan dan perbaiki gelagar dan cermati hal-hal yang menyebabkan batang baja gelagar menjadi babak belur. Periksa juga mutu baja dari kontruksi," ucap Dedet ketika dikonfirmasi Haluan Riau, Kamis (9/2).

Kepada kontraktor pelaksana, PT Waskita Karya, ucap Dedet mengatakan, harus diminta komitmennya untuk memperbaiki Jembatan Siak III, karena masih dalam masa pemeliharaan. Sebab, selama Jembatan Siak III masih dalam masa pemeliharaan, hal itu masih menjadi tanggungjawab kontraktor untuk memperbaikinya.

"Dinas PU Riau jangan pernah melakukan FHO sebelum permasalahan ini selesai," kata Dedet.

Ketika ditanyakan perihal pembangunan Jembatan Siak III diterima oleh Dinas PU Riau dan melakukan pembayaran ke PT Waskita Karya, Dedet mengatakan, Dinas PU Riau dinilai keliru. Tetapi, kekeliruan tersebut tidak terlalu prinsip.

Kontraktor pelaksana yaitu, PT Waskita Karya dapat diberikan kesempatan memperbaiki hasil pekerjaannya selama masa pemeliharaan. Apabila kontraktor ingkar janji (wanprestasi, red) maka Dinas PU Riau harus berani memberikan daftar hitam (blacklist, red) kepada PT Waskita Karya.

Buat Simpulan Keamanan

Munculnya dua pendapat yang berbeda terkait kondisi Jembatan Siak III, Assisten II Setdaprov Riau H Emrizal Pakis mengatakan, hal itu harus disikapi dengan membuat kesimpulan keamanan oleh instansi terkait.

"Di sini ada dua pemikiran yang muncul, pertama ada yang menilai perlu pembenahan konstruksi seperti disampaikan LPJK. Sementara menurut Dinas PU tidak membahayakan. Saya selaku Asisten yang mengawasi hal ini, akan memanggil tim teknis Dinas PU agar mereka bisa membuat kesimpulan keamanan jembatan tersebut dan disampaikan kepada masyarakat luas," kata Emrizal Pakis, Kamis (9/2).

Menurut Emrizal, paling penting saat ini adalah opini masyarakat jangan sampai diresahkan oleh perbedaan pandangan tersebut.

"Yang penitng opini masyarakat jangan sampai diresahkan. Tim Teknis juga harus tegas menentukan apakah jembatan itu berbahaya untuk digunakan atau tidak. Kalau memang perlu ditutup dan dilakukan perbaikan, maka harus dilakukan penyempurnaan teknis. Begitu juga sebaliknya, jika tidak membahayakan, maka fungsional jembatan bisa berjalan dengan baik," katanya.

Masyarakat Cemas

Kondisi Jembatan Siak III yang mengalami kerusakan itu sejak beberapa hari belakangan menjadi momok menakutkan bagi masyarakat di seputar jembatan tersebut. Pasalnya, ketika dilalui kendaraan besar, jembatan tersebut sering menimbulkan suara keras.

Charles (37), wiraswasta yang berdomisili di sekitar Jembatan Siak III kepada Haluan Riau Kamis (9/2) mengatakan, dia sangat khawatir kondisi jembatan tersebut.

"Kita jadi khawatir dengan kondisi jembatan ini. Kalau mobil besar lewat, ada suara kuat terdengar. Rasanya bergetar. Apa lagi besi penahan hanger sudah melengkung,"ungkap pria berbadan tegap ini.

Hal sama juga disampaikan Iyan (40). Dia mengatakan, kekuatan jembatan tidak sesuai bobot yang dapat ditanggung sebagaimana dikatakan ketika peresmian. Saat peresmian dikatakan jembatan dapat menampung beban seberat 400 ton, namun saat ini hanya mampu 80 ton.

Aini Novianto (22), mahasiswi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Riau mengatakan, kualitas aspal jembatan sungguh tidak baik. Aspalnya sangat tipis. Menurut Aini, sebenarnya jembatan ini belum layak digunakan karena masih terdapat banyak kekurangan.

Seorang ibu rumah tangga yang bermukim disekitar Jembatan Siak III. Fitri (39) mempertanyakan kualitas jembatan karena begitu cepatnya mengalami kerusakan. Hal sama juga disampaikan Fatma (39) dan sejumlah masyarakat lainnya.

Sebelumnya Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Riau, SF Hariyanto mengakui memang ada cacat banguan sedikit di Jembatan Siak III, tetapi hal itu tidak membahayakan.

"Saya simpulkan cacat sedikit tapi tidak membahayakan. Saat loading test kemarin, pemerintah pusat meminta kita untuk melakukan pengecekan sekali dalam empat hari apakah terjadi penurunan. Ternyata hasil pengecekan itu tidak ada lagi penurunan. Jadi seperti itu lah bentuknya. Dan ini kita anggap sebagai cacat sedikit lah. Tetapi tidak membahayakan," kilahnya. [mor]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.