Kamis, 17 Mei 2012
Follow Us: Facebook twitter
Gubernur Lampung Komentari Kasus Pesawaran
Headline
Gubernur Lampung Sjachroedin ZP - IST
Oleh: Kupas Tuntas
sindikasi - Jumat, 10 Februari 2012 | 01:20 WIB

INILAH.COM, Bandarlampung - Gubernur Lampung Sjachroedin ZP, tidak ingin terlalu mempersoalkan kasus pelecehan yang ditujukan kepadanya. Segala hal dan persoalan, menurut gubernur, semestinya dijalankan sesuai aturan yang ada.

Ia menegaskan, selama menjabat sebagai Gubernur Lampung (Tahun 2004), ia tidak pernah mencari-cari kesalahan orang.

“Saya selalu berdasarkan aturan,” ungkap Sjahroedin, Kamis (9/2), mengomentari persoalannya dengan Bupati Pesawaran, Aries Sandi. Sjachroedin menjelaskan, gaya memimpinnya sangat tegas dan keras, tapi itu, kata dia, ditujukan untuk mendisiplinkan para pejabat publik yang bekerja di bawah pemerintahannya.

Kalau ditegur (pejabat/bupati), bukan berarti tidak harmonis. Saya kira tidak ada masalah, ujarnya. Saat ditanya apakah ia akan melaporkan Bupati Pesawaran, Aris Sandi ke polisi atau tidak, Sjachroedin enggan menjawab. Ia bahkan, tidak ingin terlalu menanggapi persoalan itu. Menurutnya, ada persoalan lainnya, yaitu pembangunan daerah yang membutuhkan perhatian lebih besar. Rakyat lebih tahu apa yang sudah dibuat untuk rakyat dan bagaimana disiplinnya saya, ujarnya.

Dimintai komentarnya, pengamat politik dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip) Universitas Lampung, Arizka Warganegara, meminta para kepala daerah dan pejabat pemerintahan di Lampung, baik gubernur, bupati, maupun walikota, sebaiknya berupaya menunjukkan kewibawaan dan kedewasaan berpolitik, dengan tidak mengeluarkan pernyataan provokatif.

Etika berpolitik dan mendahulukan kepentingan publik harus diutamakan, ujar Arizka Warganegara, Kamis (9/2), mengomentari perseteruan Bupati Pesawaran Aries Sandi dengan Gubernur Lampung, Sjachroedin ZP.

Lampung, kata Ariska, selama ini memang dikenal sebagai daerah yang tensi politiknya tinggi, dan uniknya, sering kali dipicu persoalan non-Ideologis, pragmatis. Kasus pelecehan kepada gubernur ini salah satunya.

Dalam kondisi ini, lanjut Arizka, para pejabat pemerintahan di Lampung, yang mayoritas merupakan elite politik, semestinya tidak membawa persoalan konflik antar pribadi ke ranah publik, termasuk membahasanya di depan publik.

Fatsun (etika) dan kedewasaan berpolitik inilah yang harusnya dikedepankan sehingga pemimpin menjadi sosok yang dapat ditiru rakyatnya, kata Arizka. Ia khawatir, pertikaian antar elite politik di daerah ini dapat memicu konflik horizontal antarkelompok warga. Apalagi belakangan ini di Lampung telah terjadi sejumlah konflik antarwarga yang mendapat sorotan Nasional. [mor]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.