INILAH.COM, Pontianak - Wakil Gubernur Kalimantan Barat Christiandy Sanjay menghadiri perayaan Cap Go Meh (CGM) Nasional ke-5 tahun 2012, yang dihadiri oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, di PRJ-Kemayoran, Jakarta Rabu 8 Februari 2012.
Christiandy Sanjaya menyatakan, penyelenggaraan perayaan Cap Go Meh 2563 sebagai bentuk terciptanya harmonisasi etnis secara nasional dan khususnya di Provinsi Kalbar.
Perayaan Cap Go Meh sungguh menarik dan menjadi modal sosial untuk terus dilestarikan.
“Setiap tahun dalam perayaan Cap Go Meh di Kota Singkawang, Pontianak dan beberapa tempat lainnya di Kalbar digelar Festival Cap Go Meh. Festival budaya itu menunjukkan akulturasi yang harmonis. Itulah modal sosial yang selalu dijaga dan dikembangkan dengan baik,” ujarnya selesai menghadiri acara tersebut.
Kegiatan yang mengambil tema “Sejahteralah Indonesiaku” diselenggarakan oleh Forum Bersama Indonesia Tionghoa (FBIT) bertujuan mengajak kaum Tionghoa untuk berpartisipasi aktif dalam kebijakan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) di enam koridor di seluruh wilayah Indonesia.
Karena masyarakat Tionghoa pada umumnya sebagai pelaku ekonomi swasta dari tingkat usaha kecil menengah sampai usaha swasta domestik dan multinasional untuk mendukung program pembangunan pemerintah.
Sedangkan Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono menilai bahwa saat ini bukan waktunya lagi untuk membeda-bedakan asal-usul keturunan. Bukan saatnya lagi membedakan seseorang berdasarkan kelompok etnisnya. Presiden mengatakan inilah saat yang tepat untuk membangun semangat kesetaraan antara semua warga bangsa.
"Undang-Undang Dasar kita telah menegaskan, bahwa semua warga negara berkesamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan," ujar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
SBY menegaskan bahwa semua warga negara, termasuk masyarakat Tionghoa, mempunyai hak dan kewajiban yang sama sebagai Warga Negara Republik Indonesia.
"Sekali lagi saya katakan, kita tidak lagi mengenal pribumi dan nonpribumi atau warga asli dan warga keturunan, semuanya duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi. Semuanya memiliki hak sebagai warga bangsa yang sama," Presiden menegaskan.
Menurut Kepala Negara, komitmen etnis Tionghoa di seluruh tanah air tidak diragukan lagi. Etnis Tionghoa bersama-sama segenap anak bangsa, terus meningkatkan dukungan, peran, dan inisiatifnya dalam mempercepat pencapaian kehidupan rakyat Indonesia yang sejahtera, berdaya saing, dan berakhlak mulia.
Karena sudah tidak ada lagi sekat dan penghalang, Presiden SBY juga berharap masyarakat Tionghoa dapat lebih berperan aktif dalam proses pembangunan. Dalam upaya membangun bangsa yang beradab, ujar Presiden, tidaklah mungkin tanpa menghargai keragaman kultur budaya yang ada di tanah air kita.
"Dengan menghargai keragaman budaya itulah, kita akan menjadi bangsa yang besar. Bangsa yang mampu membangun peradaban yang mulia," pungkas SBY. [mor]