Kamis, 23 Oktober 2014
Follow Us: Facebook twitter
Warga Pajang Papan Nama Kantor Gubernur Totabuan
Headline
ilustrasi - inilah.com
Oleh: Harian Komentar
sindikasi - Selasa, 3 Januari 2012 | 22:35 WIB

INILAH.COM, Manado - Meski presiden RI mengumumkan langsung moratorium pemekaran daerah, namun kenyataanhya itu tak menyurutkan semangat warga Totabuan (lima daerah di Sulut) untuk membentuk sebuah provinsi.

Lihat saja, di hari terkahir tahun 2011, Sabtu 31 Desember, puluhan ribu warga Totabuan menyatu di Kota Kotamobagu untuk memajang papan nama Kantor Gubernur dan kantor DPRD Propinsi Totabuan.

Calon propinsi ini meliputi Kota Kotamobagu, dan empat kabupaten masing-masing Bolaang Menondow (Bolmong), Bolmong Utara (Bolmut), Bolmong Selatan (Bolsel) dan Bolmong Timur (Boltim). Kelima daerah ini adalah hasil pemekaran dari kabupaten Bolaang Mongondow sejak ahun 2007 silam.

Gerakan damai tersebut dibesut Muhammad Salim Landjar (MSL), seorang aktivis LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) sekaligus politisi yang lebih suka disebut seniman politik.

Sontak saja, aksi yang hendak menunjukkan kepada publik tentang semangat dan perjuangan tak kenal menyerah itu, melumpuhkan Kota Kotamobagu selama beberapa jam.

Massa ada yang berjalan kaki, menggunakan sepeda motor, bentor (becak motor), hingga mobil, menutup total sejumlah ruas jalan utama. Mereka mengambil garis star di rumah kediaman MSL di Kelurahan Motoboi Besar menuju gedung eks kantor Bupati Bolmong yang sudah tak berpenghuni sejak ibukota daerah ini pindah ke kecamatan Lolak.

Di sini, para pemuka adat melakukan upacara adat, sebelum papan nama bertulis ‘Kantor Gubernur Totabuan’ dipajang. Hal yang sama juga dilakukan pada kantor DPRD Bolmong, yang dipajangi papan nama ‘Kantor DPRD Bolmong.’

“Kami bukan membentuk begara baru, tetapi hanya ingin memiliki hak otonomi sendiri sebagai sebuah propinsi (yang terpisah dari Sulawesi Utara, red). Propinsi ini tetap dalam bingkai NKRI,” tegas MSL.

“Kami melakukan aksi damai di akhir tahun ini (2011), untuk menunjukkan kepada pemerintah dan masyarakat Indonesia, bahwa perjuangan ini akan terus berlanjut. Kami pajang papan nama kantor Gubernur dan kantor DPRD untuk membuktikan bahwa kesiapan secara infrastruktur sudah tak ada masalah lagi,” tandasnya.

Dalam orasinya, MSL yang mengungkapkan bahwa cita-cita pemekaran Propinsi ini sudah bertahun-tahun diperjuangkan, bahkan sebelum kabupaten Bolaang Mongondow sendiri mekar menjadi lima daerah otonomi.

Sementaran soal kontroversi nama, sebab ada juga yang mengusulkan kata ‘Propinsi Bolaang Mongondow Raya’, MSL memaparkan bahwa kata ’Totabuan’ memiliki kekuatan historis sebagai pemersatu lima daerah. “Kata ‘Totabuan’ telah diperdakan pada era pemerintahan Bupati Oe.N. Mokoagow tahun 1970-an silam. Kata Totabuan juga menurut sejarah berarti ‘pelabuhan’, pertamuan orang-orang dari laut dan daratan.

Selanjutnya, kata Totabuan juga saat ini dipakai oleh jurnalis untuk nama media massa di wilayah ini, seperi dari Jawa Pos Grup (Radar Totabuan), Komentar Grup (Komentar Totabuan) dan Media Sulut Grup (Media Totabuan),” paparnya.

“Dan terakhir, Totabuan kita pakai untuk menghemat kertas dan tinta (kalau Kabupaten Bolaang Mongondow Raya kepanjangan, red),” ucapnya lagi sambil tersenyum.

Untuk itu, MSL menggugap para bupati dan walikota se-Totabuan agar dapat cerdas dan bijak berperi dalam menyikapi aspirasi dan tuntutan masyarakat tersebut.

“Dan untuk kemacetan total yang terjadi, saya atas nama puluhan ribu masyarakat menyampaikan permohonan maaf,” ujarnya MSL yang juga kini tengah dielus banyak kalangan sebagai calon walikota Kotamobagu dengan julukan Megatrend 2013. [mor]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA