Kamis, 2 Oktober 2014
Follow Us: Facebook twitter
DBD Mengganas, Kadiskes Riau Didesak Mundur
Headline
inilah.com/Dok
Oleh: Haluan Riau
sindikasi - Kamis, 8 Desember 2011 | 05:35 WIB

INILAH.COM, Pekanbaru - Kian mengganasnya serangan Demam Berdarah Dengue, membuat kalangan legislatif di sini habis kesabaran.

Komisi D DPRD Riau mendesak Kartijo Sempono mundur dan meletakkan jabatannya selaku Kepala Dinas Kesehatan Riau. Kartijo dinilai tak mampu menanggulangi serangan DBD yang kian mewabah.

Anggota Komisi D DPRD Riau, H Ramli Sanur mengatakan hal itu, Rabu (07/12). Ramli bahkan mendesak Gubernur Riau HM Rusli Zainal segera mengevaluasi kinerja Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Riau,Kartijo.

“Kita sangat kecewa dengan langkah-langkah Pemprov Riau, khususnya Dinas Kesehatan. Begitu cepatnya daerah KLB bertambah. Kerja Diskes sungguh tak maksimal. Kondisi ini teramat memprihatinkan. Kartijo sebaiknya mundur dan meletakkan jabatannya,'' desak Ramli.

Ramli mencontohkan kilas balik peristiwa berlalu, ketika acara dengar pendapat antara DPRD Riau dan Diskes, Kartijo menyatakan kasus DBD sudah menurun.

Fakta yang terjadi justeru sebaliknya. Serangan DBD makin ganas dan korban pun banyak berjatuhan. Terkini, Pekanbaru dinyatakan dalam status Kejadian Luar Biasa (KLB) DBD, menyusul enam kabupaten lainnya di Riau.

''Ini artinya pernyataan Kartijo bertolak belakang dengan fakta yang terjadi di lapangan,'' sergahnya.

Dewan menilai, dalam mencermati dan menyiasati serangan DBD, Diskes Riau hanya menerima laporan tanpa mau turun langsung ke lapangan.

''Benar Diskes Riau tak punya wilayah, tapi tak berarti Diskes Riau tak ada kerja dan tak bisa turun ke lapangan,'' ujar Ramli.

Kewenangan dan peran Diskes Riau, imbuh Ramli, sebenarnya sangat besar, terutama dalam melakukan koordinasi dengan seluruh kabupaten/kota se-Riau.

Jika koordinasi itu dilakukan, akan cepat diketahui semua yang terjadi dan solusi apa yang mesti diputuskan. Kondisi terkini serangan DBD di Riau menunjukkan Diskes tak mampu menjalin kerjasama dengan kabupaten/kota.

Di bagian lain politisi FPAN RIau ini juga mempertanyakan sikap Pemprov Riau yang masih tertutup tentang status DBD . Seharusnya, kata Ramli, kalau memang Riau sudah dinyatakan DBD sampaikan secara terbuka agar masyarakat bisa lebih mewaspadai. Dia mengharapkan, wabah DBD tak meluas lagi.

"Sampai saat ini dewan tetap menunggu respon Diskes Riau tentang penanganan wabah DBD. Tapi sejauh ini belum ada respon sebagaimana yang diharapkan. Padahal, dewan siap membantu dalam hal pengadaan bahan baku pembasmian DBD, sepanjang hal itu untuk kepentingan masyarakat,'' ujar Ramli Sanur.

Bahkan, dengan kondisi alam di Riau yang masih masuk dalam musim hujan, kemungkinan wabah DBD berkembang dan meluas sangat terbuka. Terkait itu, dewan tetap meminta Diskes Kabupaten/Kota melakukan penanganan dan pencegahan maksimal.

Gubri Minta Kadiskes Serius

Menyikapi status KLB DBD di Pekanbaru, Gubernur Riau HM Rusli Zainal menginstruksikan Kadiskes Riau maupun Kadiskes Pekanbaru serius melaklukan upaya pemutusan rantai penyebaran virus yang disebabkan nyamuk aides aigepty ini.

"Ya, kita sudah minta Kadiskes serius menangani DBD ini dengan segera mengambil langkah-langkah yang diperlukan dengan menambah pos-pos penanganan DBD," ucap Gubri usai menjamu seluruh pimpinan redaksi media massa di kediamannya, Rabu (7/12).

Dalam kesempatan tersebut, Gubri juga menyampaikan Kementrian Kesehatan RI juga sudah mengirimkan bantuan alat fogging sebanyak 24 item untuk membantu penangan DBD di Riau.

"Kita juga sudah menambah 24 unit alat foging dari Jakarta. Jadi kita juga sudah mengirimkan surat ke Kementrian sehingga dapat tambahan alat foging untuk menambah yang sebelumnya," terangnya.

Di sisi lain, Kadiskes Riau Kartidjo Sempono yang hendak dikonfirmasi di kantornya kemarin, sedang tidak berada di tempat. Menurutnya stafnya Ami, Kadiskes sedang berada di luar karena gedungnya sedang direnovasi.

"Bapak Kadis (Kartidjo,red) sedang tidak berada di tempat karena ruangannya sedang direnovasi," kata Ami.

Ami menanyakan keperluan Haluan Riau mencari Kadiskes. Ketika disebutkan akan melakukan konfirmasi mengenai sudah ditetapkannya 7 kabupaten/kota di Riau yang berstatus KLB DBD, Ami mengarahkan Kabid Kabid P4L, Andra Syahril.

Namun sama dengan atasannya, ternyata Andra juga tidak dapat ditemui karena sedang berada di luar kota.

"Bapak Andra sedang keluar kota saya tidak tahu kapan dia pergi dan belum tahu juga kapan kembalinya. Sekretarisnya tidak masuk karena sakit," ungkap Ita, salah seorang pegawai Diskes bagian P4L. Andra yang coba dihubungi melalui teleopon selulernya juga tidak aktif.

Belum Terima Laporan

Menanggapi ditetapkannya status Kejadian Luar Biasa (KLB) untuk DBD di Kota Pekanbaru, Ketua Komisi III DPRD Kota Pekanbaru, M Sabarudi kepada wartawan Rabu (07/12), mengatakan, hingga kini pihaknya belum mendapatkan laporan.

Dewan, katanya, ingin mengetahui sejauh mana prosesnya, baik penganggulangan maupun penyediaan anggaran.

Meskipun belum menerima laporan, dewan tetap tanggap jika ditetapkannya status KLB untuk Kota Pekanbaru. Dewan minta, agar Pemko Pekanbaru lebih ekstra melakukan penanganan. Jangan sampai masyarakat menjadi resah.

"Jangan sampai ada keluhan masyarakat terhadap pelayanan, maka kita minta Pemko dapat mengantisipasi masalah ini," terangnya.

Pemko, lanjut Sabarudi, harus segera memberikan laporan ke dewan, agar dewan dapat menyikapinya.

"Kita perlu laporan segera, karena hal ini akan bersinergi dengan anggaran yang akan kita gunakan," tegasnya.

Menyinggung Pemko Pekanbaru telah menganggarkan dana sebesar Rp1 miliar, dewan menyambut baik hal itu, dan berharap dana tersebut segera digunakan buat kepentingan masyarakat.

Sekretaris Kota Pekanbaru, HM Wardan kepada Haluan Riau, kemarin, mengatakan, menindak lanjuti kasus KLB DBD ini ia meminta Kepala Diskes Kota Pekanbaru, tak hanya menerima laporan tetapi lebih banyak turun ke lapangan, memantau langsung sumber persoalan. Dengan begitu diharapkan penanganan menekan wabah DBD lebih dirasakan warga.

Pekanbaru Optimalkan Penanganan

Menindak lanjuti status KLB DBD ini, Diskes Kota Pekanbaru mengaku berupaya mengoptimalkan sarana yang sudah tersedia sebelumnya. Kabid Penanganan Masalah Kesehatan, Sri Darmawati, saat dihubunggi Haluan Riau kemarin mengatakan, saat ini ada tiga khusus penanganan DBD. Semua Posko itu akan lebih dioptimalkan.

Dalam penanganan awal, Diskes dibantu jajarannya seperti jumantik, puskesmas, mahasiswa serta lapisan masyarakat. Semua dikerahkan melakukan pencegahan, terutama di lokasi yang ditenggarai rawan DBD.

Hingga kini, Marpoyan Damai merupakan daerah rawan DBD tertinggi, dengan 63 kasus, disusul Payung Sekaki dan Tampan.

"Kasus DBD ini diprediksi turun pada November, namun karena jumlah kasus bertambah menjadi 400 kasus lebih, maka KLB ini akan kita benahi dengan prosedur dan program yang lebih tersusun," ujarnya singkat. [mor]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA